
Tampaknya hanya ada sebuah jalan sempit yang bisa kita tempuh dengan selamat untuk mencapai tujuan akhir perjalanan kita, dengan akal sebagai penuntun. Selama kita masih mempunyai tubuh-ditambah kejahatan yang bisa merasuki jiwa kita, kita tak bakalan bisa sepenuhnya mencapai yang kita kehendaki, yakni kebenaran. Tubuh selama-lamanya menyia-nyiakan waktu kita dengan tuntutan-tuntutannya. Sampai kapan pun, tubuh menghalangi upaya kita mengejar keberadaan kita yang sejati. Tubuh memenuhi kita dengan nafsu, keinginan,ketakutan, dan segala macam khayalan serta kebodohan. Tubuh menghalangi kita berpikir lurus. Tubuh itu sendiri, ditambah dengan nafsu-nafsunya, telah menyebabkan percekcokan, perpecahan sosial, dan perang-perang: asal muasal dari semua perang asalah untuk mendapatkan kekayaan, dan kita dipaksa untuk mengejarnya karena kita diperbudak oleh keingingan-keinginan tubuh. Karena mementingkan tubuh kita tidak mempunyai waktu untuk berfilsafat. Bahkan, apabila kita berusaha membebaskan diri kita dari tubuh kita sendiri saja, lalu mencoba untuk menelusuri sejumlah persoalan, tubuh itu akan tetap menjadi penghalang setiap langkah penalaran kita. Akibatnya, timbullah kebingungan, masalah, serta kepanikan yang membuat kita tak lagi bisa melihat kebenaran. Sebanarnya telah kita pelajari, apabila kita mau memperoleh pengetahuan yang sejati, kita harus bebas dari tubuh. Jiwa itu sendiri dapat melihat segala sesuatu apa adannya.
Kelihatannya, hanya setelah kita mati barulah kita dapat memperoleh kebijaksanaan yang kita kejar dan kita kehendaki itu. Berarti, kebijaksanaan itu tak bisa kita peroleh selama kita masih hidup, seperti yang telah saya tunjukkan dalam pendapat saya. Karena tak mungkin bagi kita untuk memilki pengetahuan sejati sementara kita masih memilki tubuh, maka salah satu di antara dua hal berikut sudah pasti benar: kita sama sekali tak akan bisa memperoleh pengetahuan sejati, atau kita hanya bisa memperolehnya setelah kita mati. Alasan saya, setelah kita mati, dan hanya setelah itu, barulah jiwa kita berada pada dirinya sendiri,terpisah dari tubuh. Sewaktu masih hidup, kita bisa berada sedekat-dekatnya dengan pengetahuan sejati apabila kita tidak menggunakan atau menyatukan diri dengan tubuh melampaui keharusan, dan apabila kita tidak dicemari oleh kodrat badaniah itu. Kita harus hidup murni dari tubuh sampai dewa membebaskan kita. Kalau kita bisa sedemikian murninya dan terlepas dari kebodohan-kebodohan tubuh, maka saya bayangkan, kita dapat tinggal bersama-sama orang lain yang juga murni seperti kita, dan kita pun akan mampu mengetahui semua hal yang murni.
-Plato, Phaedon